This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Modifikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modifikasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Suzuki Thunder 250, Sabet Predikat Cool Award


Waktu dan tempat memang nggak bisa berbagi. Em-Plus harus menghadiri perhelatan Tokyo Motor Show 2011. Sementara pada waktu yang sama, di kota lain digelar ajang custom bergengsi, Yokohama Mooneyes Hot Rod & Custom 20th.

Menyesal sekali enggak sempat hadir di riungan itu. Padahal, sama-sama di Jepang tapi beda kota. Riungannya pasti asyik disimak dan punya nilai sentimentil. Apalagi dua motor asal Indonesia ikut berkompetisi. Satu H-D Buelton Garapan Retro Classic  Cycle Jogja dan Suzuki Thunder 250 ini.

Suzuki Tuhnder ini hasil garapan dua builder. Yaitu  Donny Dwi Budiyanto (73 Custom Couture) dan Indra Blues Mann Pranadjaya (Razzle Dazzle Custom Work). Apakah publik Jepang mengapresiasi karya mereka?


Jawabannya sudah diduga. Setiap pengunjung yang datang pasti menoleh dan minta foto. ”Mereka sangat mengapresiasi karya kami,” bangga Donny yang juga kewalahan melayani permintaan wawancara beberapa media luar negeri yang datang  ke event ini.

Wajar jika publik Jepang mengagumi karya mereka.  Secara konsep sangat kuat, mengusung boardtracker modern dengan detailing serius dan kaya inovasi.

Juga mengesankan simpel-minimalis. Menganut single side arm depan-belakang, padat dan bercirikan muscle bike. Uniknya, walau terkesan boardtrack modern, nuansa retronya masih sangat kental.


Kerjasama apik antara kedua builder kelihatan jelas. Donny sebagai konseptor bersinergi dengan Indra Bluess yang menganggap detail adalah kunci sukses modifikasi.

Bentukan awal, mereka menyasar rake padat dan tak banyak menyisakan ruang antara roda depan atas dan T- bawah. Modal awal ini membuat motor terlihat sangat padat di sektor depan.

Masih di bagian depan, didukung back bone  melengkung dicover tangki  mengikuti  alur back bone. Membuat motor ini menjadi rounded dan tak ada sudut yang mematahkan.

Di bagian tengah, mereka mengakhirinya dengan jok single sitter ala chopperis. Dipesan langsung dari rekan mereka, pembuat jok beken Bandung, Buretos Leather Craft.

Ke belakang, mereka ingin sinergi itu terjaga. Bentukan lefty arm (single side arm kiri) di depan diikuti single side lain di sektor kanan. Plus penerus daya sistem belt  untuk mengentalkan nuasa boartrack modern tadi.

Secara estetika, memilih tanpa sepatbor belakang juga terbilang tepat. Karena motor jadi semakin simpel dan fokus pada keindahan roda belakang. Apalagi  didukung belt sebagai penerus daya tadi.

Finishing dipadu detailing di motor ini yang dibuat sangat serius. Untuk itu, Indra sebagai jawara seni ukir mesin menorehkan nuasa ke-Indonesiaan sebagai duta wisata kita di negeri Jepang.


X-TRA ORDINARY MOVE:MembalikPosisi Karbu Dan Knalpot
Ide memang kadang mengejutkan. Terus terang banyak yang nggak menduga. Kedua builder ini punya pikiran membalik blok mesin untuk mencari estetika simplisitas.

Yap, posisi karburator yang biasanya di belakang diubah ke depan. Sebaliknya moncong knalpot mendekati center bone di bagian tengah. Gebrakan ini tentu saja bikin kagum.

Merancang  corong knalpot jadi di belakang membuat desain lekukan knalpot menjadi leluasa di sektor tengah.  Bagian down tube juga tidak ‘terganggu’ oleh lekukan-lekukan knalpot jika dalam posisi biasa. ”Rancangan di sisi ini banyak mengundang perhatian,” bangga mereka.


Sumber dari :
(motorplus-online.com)  http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/12/18/326329/99/10/Suzuki-Thunder-250-Sabet-Predikat-Cool-Award

 DATA MODIFIKASI
Ignition : Blue Thunder & stock
Carb : Koso 30mm
Pelek depan: Takasago 18 inci 36 spoke
Pelek belakag: 16 inci 36 jari-jari
Ban depan : Avon
Ban belakang : Shinko

Bila Sekring Suzuki Satria F150, Spidometer Mereset

Spido digital, butuh arus listrik

Ga usah bingung jika sobat pemilik Suzuki Satria F 150 mengalami kejadian aneh di panel spidometer. Ya, misalnya ketika dipakai berkendara, tiba-tiba panel kecepatan yang digital itu seperti mereset.

Cek sekring termasuk soket, pastikan tidak kendor
Contohnya, saat ngebut kecepatan 100 km/jam lalu panel mati. Seketika, nyala kembali dan menunjukkan kecepatan yang sedang dialami. Proses nya berlangsung cepat!

“Panel spidometer juga pakai arus listrik. Jika kejadiannya seperti itu, kemungkinan ada arus terputus. Ini bisa dari sekring atau juga koneksi kabel,” ungkap Sugio, kepala mekanik Suzuki Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan.


 Sekring Satria F jadi satu dengan relay starter alias bendik. Karena letaknya ada di dalam bodi belakang sebelah kanan, jadi rawan getaran. Baiknya periksa koneksinya. “Kalau kendor, arus dari aki ke kontak bisa terputus,” tambah pria yang tinggal di Depok, Jawa Barat itu.

Cek juga koneksi kabel ke spidometer. Terutama, positif (oranye) dan negatif (hitam-putih). Jika kabel positif putus, relatif aman. Tapi, kalau kabel massa, maka spido seperti error.

Karena ada arus masuk tapi tidak bisa terbuang. Terakhir, cek juga jaringan kabel yang letaknya dekat komstir. Takutnya, ada kabel yang putus karena kejepit segitiga.  

Sumber dari : (motorplus-online.com)

Mesin Suzuki Nex mudah dan hemat di modif

Diameter luar liner Suzuki Nex 57mm. Bore up aman pakai piston 54,5mm

Suzuki Nex diprediksi bakal jadi saingan berat Honda BeAT. Terutama di ajang balap kelas matik. Karena spek teknik dan handling antara BeAT dan Nex sangat mirip. Membuat ramai peta persaingan antar merek. 

Mari tengok bore x stroke Nex yaitu 51,0 x 55,2mm. Sementara BeAT yaitu 50 x 55mm. Untuk turun di kelas MP7 atau matik 130cc tinggal menggunakan piston 54,5mm. Piston ini sudah diproduksi oleh PT Federal Izumi Manufacturing (FIM) khusus buat BeAT. Namun bisa juga dipakai untuk Nex.

Kalau Nex menggunakan piston 54,5mm, kapasitas silindernya jadi 128,7cc. Apalagi ukuran lubang pen piston antara BeAT dan Nex sama-sama 13mm. Bisa langsung klop.
 

Apalagi bahan boring Nex tidak menganut SCEM (Suzuki Composite Electro-chemical Material) yang dulu jadi andalan Suzuki namun tidak bisa oversize. Ini yang membuat Nex jadi lebih gampang kalau pakai piton besar.
 

Perbedaan meterial liner yang dipakai Nex dibanding generasi dulu, ada yang bilang itu kemunduran teknologi. Tapi, buat sebagian penyuka kecepatan atau tunner, blok konvensional bisa jadi pilihan mereka. Pasalnya terbukti bisa dibesarkan sesuai keinginan.

“Kalau mau menaikkan kapasitas silinder dengan cara oversize atau bore up, masih sangat mungkin. Ganti boring di blok pun tetap aman meksipun suhu mesin sedang panas tinggi. Sehingga gesakan piston dengan liner tidak timbulkan kendala,” terang Ricky Gunawan, salah satu mekanik tim Suzuki Chia Felix dari Komplek Ruko Aralia, Taman Harapan Indah, Bekasi.

 Pilihan piston bisa pakai piston racing Honda BeAT

Ricky coba kasih contoh kalau Nex ingin naik kapasitas dari 113cc jadi 115 cc. Kebetulan volume silinder tersebut masuk dalam regulasi balap matik kelas 115cc. Katanya bisa ganti pakai piston aftermarket merek FIM, NPR atau lainnya yang punya lingkar luar 51,5mm.

“Piston 51,5mm sudah banyak diproduksi dan dipasarkan. Piston tipe ini dipakai untuk skubek balap Honda BeAT juga. Bentuk kepala piston yang tinggi bisa diatur sesuai keperluan. Bahkan ukuran pen piston sama seperti punya Nex yang diameter 13 mm,” imbuh Ricky yang menghitung kapasitasnya jadi 114,9cc.

Bahkan jika ingin volumenya naik jadi 130cc pun masih mumpuni. Apalagi setelah ukur lingkar luar liner Nex berdiameter 57mm. Maka disumpal piston 54,5mm, kata Ricky dianggap masih aman jika dipakai buat balap atau harian. Sebab tebal liner masih tersisa 3mm, juga tidak harus repot lagi untuk membubut lubang crankcase.

 Bore up 130cc enggak perlu lagi bedah crankcase

Tapi, kalau kapasitas ingin di atas 130cc, menurut Ricky bisa pilih piston orisinal atau aftermarket buat motor Kawasaki Athlete 125 diameter 56mm. Atau bisa juga pakai piston Honda Sonic standar diameter 58mm. Kebetulan kedua piston yang disebutkan tadi sama-sama pakai pen piston 13 mm. 

“Cuma ubahan macam ini bukan hanya ganti liner dan membesarkan lubang di blok, tapi lubang crankcase juga mesti digedein,” imbuh Ricky sambil mewanti agar kubah di ruang bakar disesuaikan.

Selain pilihan piston di atas, menggunakan piston merek lain yang ukurannya pas tapi beda diameter pen piston pun bisa saja. Yang diakali dengan membuat bushing di pen piston, seperti dilakukan banyak mekanik balap.

Sumber dari :    (motorplus-online.com)

Sabtu, 05 November 2011

Suzuki Skywave, Bore Up 206 cc Buat Kerja


Suzuki Skywave milik Hendra dari Poris Paradis, Tangerang ini termasuk extreme. “Meski dipakai untuk kerja, namun kapasitas silinder sudah buncit,” jelas importir lampu sorot dari  LTC Glodok, Kota, Jakarta Barat.

Awalnya hanya bore up menggunakan piston Honda Tiger diameter 63,5 mm merek TKRJ. “Namun dirasa masih kurang enak. Akhirnya coba naik stroke,” buka Zainudin alias Bang Jay dari Eka Jaya Motor (EJM).

Bang Jay menaikkan stroke 10 mm. Namun pengin tampilan luar mesin masih standar. “Agar tidak tambah paking silinder, dibarengi dengan penerapan setang piston yang lebih pendek,” jelas mekanik dari Poris Paradis, Tangerang ini.

Setang piston yang digunakan milik Suzuki Smash. “Namun agar piston tidak metok kepala silinder, kepala piston dicukur sekitar 1 mm,” ucap mekanik asli tanah Melayu Deli, Medan ini.

Di soal pemasangan piston Tiger dipastikan tidak masuk ke setang piston Smash. Solusinya lubang di setang piston dibesarkan. Jadi 15 mm supaya masuk dan pas.











Kini kapasitas silinder bisa dihitung. Dari diameter piston 63,5 mm dibarengi dengan stroke 65,2 mm. Jadinya menghasilkan volume silinder 206,4 cc.

Setelah kapasitas silinder buncit, tinggal suplai gas bakar diperbesar.  Kepala silinder dimodifikasi agar bisa dipasangi klep EE yang diameter klep in 31 mm dan buang 25,5 mm.

Bagi Bang Jay, pasang klep gede pekerjaan mudah. Maklum kini dia spesialis pasang klep gambot untuk balap resmi dan juga liaran atau balap liar.

Suplai gas bakar juga tidak mengandalkan karburator standar. Melainkan sudah diganti dengan yang skep ditarik langsung kabel. Karburator yang dipakai Mikuni kotak 24 mm. “Dibarengi dengan penggunaan pilot-jet 30 dan main-jet 160,” ucap mekanik balap kawakan ini.

Namun akibat bore up dan stroke up itu, dinamo standar tidak bisa dipakai lagi. Solusinya menggunakan merek LHK untuk Mio. Tapi, kudu  dimodifikasi ulang. Karena beda posisi pemasangan. Dampak dari  itu, arah putaran dinamo jadi terbalik. Untuk itu terpakas harus modifikasi posisi kabel.

DATA MODIFIKASI
Knalpot     : Dibobok
Kem          : Kawahara
Pen stroke : LHK

Sumber motorplus

Selasa, 25 Oktober 2011

Suzuki Skydrive, Juara 3 Kelas 130cc Open


Suzuki Skydrive bisa juara 3 di kelas 130 cc open seperti mustahil. Apalagi di gelaran MOTOR Plus Indonesian Super Matic Race 2011 di sirkuit dadakan Harapan Indah Bekasi. Jadi kenyataan pada geberan Ahmad Kohar dari Suzuki TOP 1 BRT KYT IRC Chia Felix.

Padahal Skydrive dianggap paling berat. Bobotnya lebih berat 15 kg. Dibawa handling juga susah karena lebih gambot dan panjang. Ini menandakan mesin Skydrive hasil korekan Sefri memang sudah punya power besar.

Menurut Sefri, kuncinya menggunakan rasio milik Skywave yang dianggap paling enteng dibanding skubek lain keluaran Suzuki. Bisa dilihat dari diameter roda, milik Skywave 16 inci, otomatis rasio harus lebih ringan agar akselerasi yang diinginkan jadi lebih spontan.

Begitu juga roler CVT yang digunakan. Hanya mengandalkan 7 gram meski trek lurusnya sekitar 200 meter. Agar tarikan bawah benar-benar ringan.

Ini kemajuan yang luar biasa. Hanya butuh dua seri, sudah sanggup bersaing dengan matik pabrikan lain. Dipastikan akan banyak pengguna matik Suzuki kalau bisa kencang seperti ini.

Kalau untuk korekan mesin, bisa dibilang biasa saja. Seperti piston, cukup menggunakan merek NPP yang aslinya untuk Shogun 125 cc.


Ukuran piston yang digunakan yaitu 54,75 mm. Dipadu dengan stroke Skydrive yang 55,2 bisa dihitung peningkatan kapasitas mesin. Yaitu jadi 129,9 cc.

Agar aman, posisi piston dibuat lebih mendem 0,7 mm. Dipadukan dengan ruang bakar bentuk hemi atau dome biasa, dipatok rasio kompresi 12,2 : 1.

Durasi kem juga dipatok tidak terlalu tinggi. Untuk klep isap diseting membuka 28° sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 57° setelah TMB alias Titik Mati Bawah .

Untuk klep buang dibuat berbeda. yaitu membuka 53 derajat sebelum TMB dan menutup 28 setelah TMA. LSA klep buangnya yaitu 10,2,5. Klep yang digunakan juga seperti kebanyakan orang pakai. Yaitu klep Sonic 28 mm untuk in dan ex 24 mm.  (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Ban            : Indotire
CDI           : BRT
Karburator : PWK 28
Spuyer       : 112/52

(sumber motor plus)


Suzuki Skydrive 125 modifikasi








Gaya modifikasi skubek low rider paling pas bersanding dengan Suzuki Skydrive. Ini lantaran desain skubek berlogo S ini punya bodi yang lebih gambot katimbang bodi standar motor matik lain yang jadi rival atau bahkan yang masih saudaranya.

“Mulai dari bagian sayap depan motor sampai areal dek memiliki dimensi yang lebih besar,” serius Joddy, owner sekaligus builder bengkel JDM Project di Pangkalan Jati, Kalimalang, Jakarta Timur.

Dengan dukungan bodi gambot, Skydrive jadi lebih mantap kena sentuhan gaya low rider. “Enggak perlu tambahan unsur wide body, skubek ini sudah terlihat besar dan berotot,” lanjut builder berkacamata minus.

Pe-ernya tinggal bikin undur-undur atau breket dudukan mesin lebih melar. Seperti pada ubahan gaya low rider umumnya yang diaplikasi sama. Pada Skydrive ini breket dudukan mesin dibikin panjang sekitar 25 cm. 

Setelah itu yang jadi perhatian adalah ubahan pada areal kaki-kaki. Untuk roda depan mengaplikasi pelek custom monoblok depan lebar 3 inci. “Biar pas, duduk di fork depan segitiga bawah harus dibuat lebih lebar,” lanjut Joddy yang kerap tampil di program TV swasat nasional.

Sementara untuk roda belakang, juga mengandalkan pelek monoblok yang sama dengan lebar 6 inci. Kedua roda ini tetap mengaplikasi diameter roda ring 14 inci sesuai ukuran roda Skydive standar.

Pemilihan warna pada bodi juga ikutan diolah. Mengandalkan airbrush grafis yang tarikan garisnya dibikin mengikuti lekukan bodi Skydrive.

DATA MODIFIKASI
Knalpot            : JDM Projeck
Grip                  : Custom Mahkota Raja
Filter udara     : Variasi Turbin
Sok belakang : Variasi
Setang            : Z Bar Custom
JDM Project   : 0811-14-1722 

(sumber motor plus)

Disupport Yoshimura, Performa Si Titan Makin Yahud!


Suzuki TOP 1 BRT KYT IRC (STBKI) jadi salah satu dari beberapa tim yang disupport Suzuki. Pabrikan berlambang ‘S’ ini menunjuk Yoshimura buat bantu riset pacuan di ajang IndoPrix. Seperti yang dilakukan di pacuan IP1 (110 cc) yang digeber Achmad Kohar, di Seri IndoPrix Surabaya, beberapa waktu lalu.

Sejumlah suku cadang diboyong demi bantu Titan agar melesat bagai anak panah. “Ada tiga part yang dibawa. Tapi, hanya dua yang akhirnya terpakai. Per klep dan karburator,” ujar Felix Judianto, owner tim STBKI.

Sedangkan part yang tidak terpakai, noken as. Alasannya, salah bawa part alias tak sesuai dengan konfigurasi kebutuhan. Lewat per klep yang dibawa, lift klep 27 mm (in) dan 23 mm (ex) yang diusung, dibuat lebih tinggi. Lift klep main di 9 mm lebih. Itu karena per ini agak sedikit beda ketimbang per klep Jepang.


Perbedaan terletak di jarak tiap ulir per saja. Tapi, kalau menurut Felix, kekerasannya tidak jauh beda. “Jarak agak jauh, setidaknya meminimkan risiko beradunya antara setiap ulir,” tambah pria yang juga mantan pembalap itu.

Dukungan karbu juga bikin perbedaan. Ukurannya sama seperti Mikuni 24 mm. Tapi, ketika dicoba di atas mesin dynotest, powerband yang dihasilkan di putaran tinggi sedikit lebih bagus.

Tapi, angka spuyer turun drastis ketika pakai karbu Yoshimura. Pakai Mikuni, pilot-jet 25 dan main-jet 150. Sekarang, 22,5 dan 100. Turunnya angka spuyer bisa disebabkan bedanya jarum skep. Di Yoshimura, jarum skep terdapat beberapa lubang. Sedang di Mikuni, polos.

Meski sudah aplikasi dua part itu menurut Felix, seting engine belum maksimal. “Perlu riset lagi agar dapatkan hasil yang terbaik,” tutupnya. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban                         : IRC 166 90/80-17
Piston                     : 51,5 mm FIM
Sok belakang        : Kitaco
Kaliper rem & CDI : BRT
Knalpot                   : AHAU Motor

(sumber motor plus)


Suzuki Smash Titan, Pelatuk Klep Roller Bikin Podium



Daya tahan jadi kuncian selain power yang besar. Ini yang diterapkan Suzuki Smash Titan 110 tunggangan Ocky Lukman S. saat main di IP 110 Indoprix Seri III, Sirkuit Sentul. Kombinasi itu tidak terlepas dari peran pelatuk kem model roller yang diaplikasi.

Sejatinya pelatuk klep Titan aplikasi model sepatu alias konvensional. Berkat roller rocker arm, Smash Titan bernomor start 86 mampu ke podium setelah menempuh 12 lap lintasan sepanjang 3.965 meter (47.580 km).

Buat mengubah pelatuk jadi model roller, tidak banyak yang dilakukan. “Pelatuk dapat dari Suzuki dan memang diperuntukan untuk Titan. Sehingga penyesuaian hanya di profil kem saja,” ungkap Hasyim Sonedi, mekanik tim Cargloss AHRS IRC Racing Team.

Cara ubah kem Titan dilas pakai argon dan profilnya disesuai kebutuhan pelatuk. Ya, lebih membulat. Durasi juga dibuat ulang. Untuk klep isap (in) durasi bumbungan dibuat jadi 270º. Angka yang sama juga berlaku bagi klep buang (ex).

Lengkapnya, durasi klep isap membuka 30º sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60º sebelum TMB (Titik Mati Bawah). Sedang klep buang, membuka 60º sebelum TMB dan menutup 30º sebelum TMB.

Paduan durasi ini bikin Lobe Separation Angle (LSA) bermain di 105º. Karakter LSA ini cenderung bermain rata. Artinya, grafik putaran tenaga motor tidak menonjol di satu sisi. Misalnya di putaran bawah saja atau atas.


Meski durasi sama, diakui Hasyim tinggi bumbungan kem dibuat beda. “Ini ditujukan untuk keperluan lift klep. Karena lift klep in dan ex dibuat beda,” buka tunner berumur 30 tahun itu.

Disokong klep diameter 27,8 mm (in) dan 23 mm (ex), lift klep buat klep in dipatok di 9,4 mm. So, pasokan gas bakar jadi lebih deras. Sedang klep ex, hanya bermain di angka 9 mm. Dengan per klep Jepang, katanya sangggup diajak menahan beban tekan hingga 14 ribu rpm.

Masih bermain di sekitar ruang bakar. Piston Izumi diameter 51,5 mm dibikin perbandingan kompresi menjadi 12,5 : 1. “Sengaja tidak ingin terlalu tinggi. Maksudnya biar mesin lebih tahan gesek juga impac,” kata mekanik kelahiran Jogja ini.

Mengimbangi setingan pada engine, pengapian turut dimainkan. Mengaplikasi CDI Vortex, timing magnet dibuat menjadi 11º. Padahal, kalau buat main di trek Kenjeran, Surabaya, timing disetel di 12º. “Sengaja diturunkan untuk mengejar putaran atas. Sentul kan lebih panjang,” bilang Hasyim yang ramah itu.

 DATA MODIFIKASI
Ban depan     : IRC 166 90/80-17
Ban belakang : IRC 221 90/80-17
Sok belakang : Yohsimura
Karburator     : Mikuni Sudco 24 mm
Knalpot         : AHRS

(sumber motor plus)


Suzuki Thunder 250 Jadi Cinta Barat Style


Pameran otomotif memberi sebuah ilham bagi Johnny Law yang berdomisili di Cideng, Jakarta Barat. Terutama, ketika berkunjung ke salah satu stan modifikator. Tampilan modified yang disuguhkan di boot Studio Motor milik Donny Ariyanto, bikin Johnny kepincut bukan kepalang. Terutama oleh aliran brat style.

Studio Motor sendiri dikenal memang spesialis ubahan bergaya ol’ skul. “Konsep diserahkan semuanya kepada saya. Begitu juga Suzuki Thunder 250 yang diinginkan Johnny sebagai basis motornya, juga saya yang carikan,” cerita Donny mengenai proses awal modifnya.

Demi ubahan yang sesuai genre brat style, sasis asli harus dichop alias potong. Terutama pada bagian tengah ke belakang atawa sub frame. Konsep ini memang tetap mengandalkan rake bawaan, hanya saja kepadatan tetap diperhatikan. Seperti sok depan yang kemiringannya masih dipertahankan seperti aslinya.

Bentuk sasis Thundie sudah paling pas untuk ubahan ini. Karena sasis tengah memang sudah berbentuk huruf V. Tidak harus menambahkan pipa lagi


“Rangka tengah dipotong ukurannya disesuaikan. Begitu juga rangka buritan yang dipotong habis sampai tengah,” ujar Donny dari workshopnya yang berada di Jl. Veteran Raya (Depan RS. Dr. Suyoto), Bintaro, Jakarta Selatan.

Begitunya tinggal menyudutkan posisi ujung lengan ayun bersama dengan sok belakang. “Posisi sok belakang otomatis sedikit lebih miring, karena memang masih memakai lengan ayun standar bawaan motor,” tambah Donny yang berbadan tegap dan juga berjenggot itu.

Bentuk tangki pasti jadi perhatian, karena tempat penampung bahan bakar ini tentu menjadi magnet utama pada tampilan keseluruhan. Material dari pelat galvanis tebal 1,2mm dirasa cukup.

Siraman biru kombinasi silver dari material cat Blinken dengan finishing pernis Sikkens, berpadu manis dan begitu harmonis.

Ukuran lingkar roda ikut menentukan hasil akhir. Terutama roda depan yang memang diameternya kudu dibikin lebih besar dari roda belakang.

Teliti Memilih Variasi
Sebagai catatan, knalpot custom bentuknya sudah pas dan sangat cocok. Sebagai pemanis tampilan akhir, balutan krom mengkilap seakan memanjakan mata. Namun posisi muffler harusnya dibuat lurus dari leher sampai ujung lubang buang. Itu agar kesan brat dibelakang menjadi kesatuan yang dinamis.


Menambah kesan resik, brat style bermain pada variasi di bagian tertentu. Misalnya; di bagian setang, lampu belakang, spion, lampu sein serta lampu depan.

Perintilan seperti ini juga harus diperhatikan dalam pemilihan model, serta meletakannya dengan pas. Tujuannya, agar finishing benar sempurna. Seperti stop lamp pada motor ini. Produk aftermarket yang dipilih sesuai dengan kebutuhan. “Kebetulan dapat yang tidak terlalu besar, cocok dipasang pada sepatbor belakang,” kata Donny.

 DATA MODIFIKASI
Ban depan       : Bridgestone 110/80-18
Ban belakang   : Bridgestone 140/70-17
Pelek               : Champ
Sok belakang   : YSS


(sumber motor plus sabtu 24 september 2011)



Suzuki Smash Titan Mengacak Dominasi Yamaha Dan Honda


Trek dadakan PRJ Kemayoran atau tempat berlangsung MotoPrix region 2, dua minggu lalu jadi saksi Suzuki Smash Titan geberan Rizaludib Sidqi sanggup mengacak-acak dominasi Yamaha dan Honda. Meski joki Suzuki Cargloss AHRS IRC, cukup puas di urutan ke-4 bebek 110cc 4-tak tune-up seeded (MP2).

Jika diterawang, naga-naganya motor berlogo S besar ini harusnya mampu di posisi terdepan. Bisa lihat dari seringnya Sidqi memainkan tenaga mesin Titan, agar bisa mencuri celah motor di depannya. Cuma berhubung tanpa tim order, kesempatan pun pupus.

Secara teknis kuncian tetap ada pada racikan mesin. Daya tahan dan power besar jadi tumpuan. “Makanya kombinasi itu tidak terlepas dari peran pelatuk kem model roller yang diaplikasi,” ujar sang peramu yaitu Hasyim Sonedi, mekanik tim bermarkas di Depok itu.

Hasyim mengaku kalau spek racikan motor buat di Kemayoran hampir sama dengan motor yang dipakai di Sentul. Dibikin hampir sama karena Titan di Thailand sudah pakai pelatuk model roller. Jadi, gak khawatir kehilangan tenaga efek floating klep, karena komponen ini memang sudah diperuntukan untuk Titan.

“Tinggal menyesuaikan profil kem yang dibantu las argon agar bentuknya membulat. Lalu durasi dibuat ulang dengan setingan 270 derajat untuk klep isap (in) dan berlaku juga bagi klep buang (ex),” lanjut pria berambut lurus ini.


Meski data lengkapnya dirahasiakan, namun dari keterangan Hasyim kalau ubahan durasi  itu tadi menghasilkan Lobe Separation Angle (LSA) bermain di angka 105º. Karakter ini cenderung bermain rata, sehingga tenaga motor tidak menonjol di satu sisi baik putaran bawah atau atas.

Didukung klep diameter 27,8 mm (in) dan 23 mm (ex), lift klep buat klep in dipatok di 9,4mm menghasilkan pasokan gas bakar makin deras. Sedang klep ex yang dipatok angka 9 mm dengan per klep Jepang, konon sangggup diajak menahan beban tekan hingga 14 ribu rpm.

Mengulik komposisi ruang bakar, piston FIM diameter 51,5mm dibikin dengan perbandingan kompresi 13 : 1. “Sengaja lebih tinggi biar lebih bertenaga. Terutama di rpm bawah agar motor tidak lelet selepas diajak melibas tikungan balik,” imbuh mekanik asal Jogja ini.

Ngono, tho!  (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Sok belakang : Daytona
Karburator : Mikuni Sudco 24 mm
Knalpot : AHRS
Pengapian: Vortex

(sumber motor plus sabtu, 24 september 2011)

Suzuki Satria FU-150 Ganti Rangka Almu



Biasanya basic modifikasi supermoto diambil dari besutan genre trail atau motor sport. Selain lebih mudah menggarapnya, ubahan yang dilakukan hanya seputar kaki-kaki. Tapi, Jemi Tansatrisna yang berasal dari Bajawa, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) berpandangan lain. Dia sukses mewujudkan supermoto sensasional dengan hanya mengandalkan Suzuki Satria F-150.

Pantas tampilan Satria FU ini penuh sensasi, lihat saja yang diambil dari motor hanya mesin. Sisanya mulai dari rangka dan kaki-kaki mengandalkan copotan limbah. Secara keseluruhan sudah mengadopsi tampilan Yamaha RMZ 450.

Aplikasi rangka almu atau aluminium untuk supermoto dengan basic Satria F-150 tergolong baru pertama kali dilakukan. “Melihat motor setelah jadi, modifikasinya kelihatan simpel, tapi juga banyak ubahan di seputar rangka,” terang Lerry Rahmat Rizky dari Caos Custom Bike (CCB).

Rangka Suzuki RMZ 450 2006 yang merupkan trail special engine (SE) didatangkan utuh dari luar negeri. Sedikit terkendala pada proses pemasangan mesin ke rangka. Harus kompromi dengan braket sebagai pengikat mesin.

Berbeda bila andalkan frame besi, untuk bikin dudukan atau braket mesin bisa mengandalkan las listrik. “Kalau bahan aluminium harus pakai las khusus, apalagi untuk rangka, alat las nggak sembarang- an karena berhubungan dengan safety,” urai modifikator yang mengerjakan braket mesin ini langsung di pabrik Suzuki.   

Ada beberapa titik ubahan rangka untuk meyesuaikan dengan dudukan mesin F-150. Pada bagian belakang dan atas mesin harus disesuaikan.

Untuk breket bagian atas mesin malah lebih repot pengerjaannya. Itu lantaran harus menggeser rangka yang memang menyatu dengan deltabox bagian atas sampai 5cm.

“Hasil ubahan benar-benar mulus, hampir tidak ada bekas potongan deltabox. Memang ongkosnya lebih mahal, tapi kualitas dan hasil pengelasan enggak diragukan. Apalagi untuk mengikat mesin yang bergetar,” urai Lerry.



Totalitas membangun trail bergenre supermoto ini sempurna diwujudkan Lerry Rahmat Rizki. ”Memang trial dan error saat proses pengerjaan selalu ada. Tapi tentu harus sabar dan mencari solusi terbaik,"  ujar Lerry, modifikator yang sampai saat ini masih membujang ini.

Sejarah motor ini lumayan panjang. dan beberapa kali ganti modifikator. Yang tersisa hanya mesin diambil dari bulider lain karena gagal konsep.

KAKI APRILLIA SXV
Enggak mau dibilang taggung, proses ubahan motor juga mengandalkan kaki-kaki limbah yang terbilang sangat spesial. Upside down dan lengan ayun diambil dari copotan limbah Aprillia SXV.

Istimewanya kaki-kaki Aprillia SXV ini lantaran besutan  yang aslinya memang diluncurkan pabrikan Italia sebagai besutan Hypermotard. "Jadi, memang nyambung dengan konsep supermoto," jelas Lerry.

 Memang perlu dana lebih untuk menebus kaki-kaki Aprillia SXV ini apalagi barangnya sangat terbatas dan besutan ini juga pernah jadi jawara kejuaraan supermoto dunia. Alhasil limbah kaki-kakinya banyak diburu pecinta besutan supermoto.

Bagian roda menjadi lebih kekar setelah megaplikasi pelek lebar untuk depan 3,5 inci dan belakang 4,5 inci. Keduanya dibalut ban Michellin Pivot One. Sedangkan tromol aftermarket pakai produk aftermarket berlabel Talon. Kabarnya hub tipe ini juga jadi andalan tim balap yang turun di kejuaraan supermoto dunia.   (www.motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan  : Michelin 120/70/17
Ban belakang  : Michelin 160/60/17
Sok belakang   : Marzhocci 
Bodi  : Suzuki RMZ 450
CCB : 0817 008 9400
(sumber dari motor plus. selasa, 18 oktober 2011)

Diberdayakan oleh Blogger.

YM

Suzuki Genuine Part

Harga Spare Part SUZUKI