This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sci-Tech. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sci-Tech. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2011

Kucing Kembar Siam Bermuka Dua Hidup Selama 12 Tahun Pecahkan Rekor Dunia



Dua belas tahun sudah, Frank dan Louie, berbagi hidup di tubuh yang sama. Keduanya terlahir siam, menempel dalam satu tubuh dengan dua mulut, dua hidung, tiga mata, dan dua telinga. Hingga hari ini, tak ada gangguan kesehatan yang berarti pada keduanya.
Sara Wilcox, juru bicara Guinness World Records, menyatakan mereka adalah kucing jenis Janus tertua di dunia. Disebut ‘Janus’ berdasar klasifikasi zoologis Inggris, Dr Karl Shuker, yang menamakannya sesuai nama Dewa Romawi yang bermuka dua.

Frank dan Louie mengalami duplikasi craniofacial, sebuah kondisi kongenital yang sangat jarang. Dikenal juga sebagai diprosopia, individu yang bersangkutan akan memiliki dua wajah yang mirip dalam satu kepala.
Di dunia kucing, kata Wilcox, hal ini sangat jarang terjadi. kalaupun terjadi, biasanya individu yang bersangkutan tak akan hidup lama.
Frank dan Louie lahir pada 8 September 1999. Merayakan ulang tahunnya, nama keduanya dicatat dalam edisi terbaru Guinness World Records yang akan diterbitkan tahun 2012.
Marty, seorang dokter hewan yang juga pemilik kucing itu, menemukannya secara tak sengaja. Tahun 1999, ia kedatangan pengunjung membawa anak kucing seukuran telapak tangannya, memintanya untuk melakukan suntik mati atau eutanasia. Marty menolak. Wanita asal Massacusetts ini menawarkan ganti: sanggup memelihara keduanya.
“Membesarkan kedua, tiap hari bagai sebuah keajaaiban bagi saya,” kata Marty. (aneh tapi nyata)

Peneliti Berhasil Produksi Sperma di Lab


Sperma tersebut terbukti mampu membuahi sel telur dan menghasilkan keturunan yang normal.

Sperma merupakan sel yang kompleks. Ekor, spiral mitokondria bagian tengah, kepala yang memiliki desain khusus sehingga mampu menembus bagian membran luar telur, merupakan hasil dari proses pengembangan yang sangat canggih di dalam testis.

Selama hampir satu abad, peneliti selalu gagal dalam menciptakan proses ini di lab. Namun kali ini peneliti telah semakin dekat. Mereka berhasil menumbuhkan testis dalam cawan dan menggunakan sperma yang diproduksi untuk membuahi tikus.

Menurut para peneliti, temuan ini berpotensi memperbaiki In Vitro Fertilization (IVF) dan teknik inseminasi buatan pada manusia.

Dalam pengujian, sekelompok peneliti yang dipimpin oleh Takehiko Ogawa, pakar reproduksi dari Yokohama City University, Jepang, mencopot testis milik tikus bayi yang baru berusia 2 atau 3 hari. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa testis tikus itu belum punya sperma yang berusia matang.

Peneliti kemudian menempatkan testis tersebut di cawan petri berisi media khusus yang mencakup komponen yang disebut KSR – sering digunakan untuk mengembangkan sistem sel embrio – dan kemudian memelihara testis itu agar tumbuh besar.

Setelah sekitar satu bulan, peneliti mendapati bahwa testis tersebut berkembang normal dan mulai memproduksi sperma. Testis ini juga sudah dimodifikasi sehingga mereka mengeluarkan warna kehijauan jika mereka sudah dewasa.

Saat peneliti mengekstrak sperma dari testis yang dipelihara di cawan tersebut dan menginseminasikannya ke tikus betina, tikus tersebut kemudian hamil dan melahirkan anak-anak tikus yang sehat. Adapun testis yang dipelihara tersebut tetap mampu memproduksi sperma hingga dua bulan kemudian.

Menggunakan metode yang sama, peneliti bahkan mampu memproduksi sperma dari testis muda yang telah dibekukan selama satu bulan.

“Kemampuan memproduksi sperma di luar tubuh hewan memungkinkan kami mempelajari mekanisme pertumbuhan molekular sperma dengan lebih mudah,” ucap Ogawa, seperti dikutip dari Sciencemag, 24 Maret 2011.
“Kami yakin bahwa metode ini bisa diaplikasikan pada hewan yang lebih besar,” ucapnya sambil menyebutkan bahwa itu adalah prioritas penelitian berikutnya.

Pada akhirnya, Ogawa dan timnya berharap, teknik mengangkat testis dan memelihara testis hingga tetap memproduksi sperma dengan normal ini juga bisa diterapkan pada manusia.

Meski demikian, masih banyak yang perlu dilakukan. Ogawa masih perlu mengamati metode di mana KSR mendorong pertumbuhan sperma yang sampai saat ini masih belum bisa diketahui. Selain itu,
beralih ke pengujian pada testis manusia juga memiliki banyak tantangan.

Ditemukan, Partikel Lebih Cepat dari Cahaya


Bila berhasil diverifikasi, temuan ini membatalkan teori Einstein seputar relativitas.


Sejumlah fisikawan menyatakan bahwa mereka telah menemukan sebuah partikel sub atomik yang disebut dengan neutrino, yang mampu berjalan dengan kecepatan lebih tinggi dibanding kecepatan cahaya.  Temuan ini, bila berhasil diverifikasi, akan membatalkan teori Albert Einstein seputar relativitas.

Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh para peneliti di European Centre for Nuclear Research (CERN) di Swiss dan sebuah laboratorium di Italia, partikel mikro itu mampu bergerak dengan kecepatan hingga 300.006 kilometer per detik. Sedikit lebih cepat dibanding cahaya yang hanya mampu menembus kecepatan 300.000 kilometer per detik.

“Temuan ini sangat mengejutkan kami,” kata Antonio Ereditato, ilmuwan yang menjadi juru bicara eksperimen yang memiliki sandi Opera, seperti dikutip dari News 24, 23 September 2011. 

Seperti diketahui, sebelum ini para ilmuwan menganggap tidak ada partikel yang mampu bergerak lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan cahaya. “Kini kami sedang mencari penjelasan yang paling memungkinkan untuk semua ini,” ucap Ereditato.

Dari uji coba, sebuah akselerator partikel menembakkan pancaran neutrino dari laboratorium CERN di Swiss ke sebuah lab di Italia. Ternyata, pancaran partikel itu tiba dalam waktu 60 nanodetik atau seperenampuluh miliar detik, lebih cepat dibanding cahaya.

Pada tahun 1905, Albert Einstein melontarkan teori seputar relativitas, teori yang dikenal dengan persamaan E=MC2 yang saat ini menjadi komponen fundamental dalam ilmu fisika modern. Teori ini berdasarkan pada ide bahwa tidak ada yang bergerak lebih cepat dibanding cahaya.

Jika temuan seputar neutrino ini berhasil diverifikasi, ia akan memaksa para ilmuwan untuk memikirkan ulang apa yang telah ditemukan dalam seabad terakhir terkait bagaimana cara kerja alam semesta.

Hasil temuan dalam uji coba itu dianggap sulit dipercaya, bahkan oleh para ilmuwan yang menemukannya. Para ilmuwan juga tengah mengonsultasikan dengan rekan-rekan mereka di berbagai belahan dunia untuk verifikasi, untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam metode pengujian ataupun kalkulasi yang dibuat.




Jika temuan seputar neutrino ini berhasil diverifikasi, ia akan memaksa para ilmuwan memikirkan ulang apa yang telah ditemukan dalam seabad terakhir terkait bagaimana cara kerja alam semesta. 

Utopia, Proyek Kota Terapung Masa Depan


Kota terapung ini juga memiliki kemewahan kapal pesiar.


Idenya mungkin berasal dari salah satu film James Bond, "The Spy Who Loved Me". Namun, perusahaan Inggris BMT Nigel Gee yakin bahwa 'kota terapung' ini akan menjadi masa depan kehidupan di tengah laut.

'Kota terapung' ini memiliki 11 dek akomodasi, dan bentuknya yang bulat memungkinkan area observasi 360 derajat. Seperti kapal pesiar mewah, 'kota terapung' ini juga dilengkapi empat helipad dan sejumlah kolam renang.

Walau bukan kapal pesiar, namun kemunculan proyek yang dinamakan "Project Utopia" ini diungkap pertama kali di Monaco Yacht Show.
Desain Utopia memperlihatkan empat platform menyerupai kaki yang menjadi penegaknya. Empat platformenopang ini juga yang akan membuatnya stabil walau di laut ganas sekalipun.


Seperti kapal, Utopia juga mampu bergerak, walau dalam kecepatan lambat. Dengan bentangan luas sekitar 65 meter, Utopia menyediakan hingga 13 lantai, dengan dek 















observasi yang memungkinkan pandangan panorama. Selain itu, terdapat pula ruangan untuk toko, bar, dan restoran.


BMT Nigel Gee juga belum menghitung perkiraan biaya untuk pembuatan Utopia. Belum juga diketahui apakah akan ada konsumen yang bersedia tinggal di kota terapung tersebut.


Namun, Direktur Yacht Design James Roy percaya Utopia akan mengubah pandangan dan konsep awal mengenai arsitektur kelautan tradisional.


"Pandangan mengenai masa depan biasanya terbentuk dari kebiasaan yang ada di masa kini atau refleksi di masa lalu," ucap Roy."Utopia bukan benda untuk berpergian, tapi merupakan tempat tujuan. Seperti pulau yang dibangun untuk siapapun yang memiliki pandangan akan terciptanya tempat seperti ini," lanjutnya.


James Roy juga mengatakan desain yang dibuat tercipta dengan bekerja sama dengan Yacht Island Design, yang merepresentasikan perusahaan yang bekerja di pembuatan yacht dan perlengkapan kelautan komersial. Utopia merupakan sebuah pernyataan seni dan teknologi yang membawa inovasi dalam industri ini. | Daily Mail

Mobil Berkemah Masa Depan


Atap bisa ditinggikan hingga penumpang memiliki ruang yang lebih lega.




Selama ini banyak yang malas menghabiskan liburan dengan berkemah menggunakan mobil van. Situasi yang tidak nyaman, membuat orang lebih memilih menikmati liburan di rumah ketimbang menggunakan van.


Karena itu, sejumlah ahli desain dari NAU di Swiss mengembangkan desain van untuk berkemah di masa depan. Dengan kendaraan bertenaga listrik ini, NAU berupaya menghadirkan kenyamanan di dalam van selama berkemah.


Dalam kondisi living mode, atap van berkemah bernama "The Ecco" ini bisa ditinggikan dua kali lipat. Sehingga penumpangnya memiliki ruang lebih lega dan tidak akan merasa lelah karena terus menunduk.


Mobil ini memiliki kapasitas penumpang sebanyak 5 orang. Mereka bisa tidur nyenyak tanpa harus melipat kaki. Dalam living mode, penumpang masuk dari belakang dengan tangga yang bisa dimasukkan ke dalam mobil.


Sedangkan, dalam keadaan drive mode, van berkemah ini memiliki bentuk menyerupai kapsul. Pintu akan terbuka dari samping, seperti mobil pada umumnya.Tenaga listrik untuk mobil ini juga bisa diisi dengan menggunakan panel solar di atapnya. Dengan 8 jam waktu charge, mobil ini bisa digunakan berkendara selama 24 jam.


Juru bicara NAU menyebut VW Kombi menjadi inspirasi pembuatan desain The Ecco. Di tahun '60-an, VW memang menjadi ikon bagi "flower generation" yang sering berkelana sekaligus tinggal di dalam vannya.
"Tapi tak seperti VW yang lebar, bentuk The Ecco dibuat lebih aerodinamis," ucapnya. "Kami ingin menghadirkan kebebasan berkendara kepada generasi mendatang." (Sumber: Daily Mail, Gizmag).






Dinosaurus Ini Lebih Seram dari T. Rex


Spinosaurus aegyptiacus merupakan dinosaurus carnivora yang paling besar.



Apakah Anda mengira Tyrannosaurus rex merupakan dinosaurus predator yang paling besar dan mengerikan? Jika demikian, perkiraan Anda salah.
Tyrannosaurus rex dewasa maksimal dapat tumbuh hingga tinggi 4 meter dan panjang sekitar 12 meter. Ia masih kalah raksasa dengan Giganotosaurus carolinii yang bisa tumbuh hingga 5 meter dan panjang sekitar 13 meter. Namun ia juga bukan predator yang paling besar. 

Adalah Spinosaurus aegyptiacus (yang memiliki arti kadal dengan tulang punggung) yang tinggal di kawasan yang kini menjadi Afrika Utara, merupakan dinosaurus carnivora yang paling besar.

Hewan yang hidup di tahap Albian sampai Cenomanian, di dalam periode Cretaceous (sekitar 112 sampai 97 juta tahun lalu) bisa tumbuh hingga 18 meter dan tinggi 6 meter dengan berat hingga 23 ton. Berikut perbandingan Spinosaurus dengan dinosaurus carnivora lainnya:


Tengkorak kepala Spinosaurus panjang dan pipih, serupa kepala buaya. Di punggungnya terdapat tulang semacam layar yang bisa tumbuh hingga 1,65 meter. 

Hewan ini punya tujuh gigi di setiap sisi mulut depan dan 12 gigi di setiap sisi rahang dalamnya. Tidak  seperti dinosaurus carnivora lain yang memiliki gigi cenderung melengkung, gigi milik Spinosaurus tegak lurus dan kemungkian berfungsi seperti pisau yang lebih memudahkan untuk memakan mangsa yang licin.


Seperti layaknya beruang grizzly modern, Spinosaurus menghabiskan banyak waktu di atau di dekat air untuk menangkap ikan. Namun dinosaurus dengan ukuran tersebut kemungkinan tidak hanya memakan seafood, tetapi juga membunuh dan memakan dinosaurus lain. Termasuk memakan daging bangkai dinosaurus.

Ditemukan, Katak Bertaring di Sulawesi


Ada 13 spesies katak bertaring yang ditemukan. Di antaranya belum dideskripsikan sains.



Sekali lagi, Nusantara menunjukkan kekayaan hayatinya. Tim ilmuwan dari Kanada menemukan hewan unik di Pulau Sulawesi: katak bertaring.
Ben Evans, ahli zoologi dari McMaster University, Hamilton, Ontario -- bersama dengan koleganya dari Indonesia dan Amerika -- menemukan 13 spesies katak bertaring di Sulawesi. Temuan ini lebih banyak dari yang pernah ditemukan di Filipina sebelumnya.

Di antaranya adalah spesies yang belum pernah dideskripsikan oleh sains. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal The American Naturalist, edisi Agustus.

Katak bertaring masuk dalam genus Limnonectes-- penamaan ditujukan pada dua tonjolan tulang rahang di rahang bawah mereka. Meski mirip taring, sejatinya tonjolan itu bukanlah gigi. Sebab, mereka tidak memiliki akar dan karakteristik gigi.

Evan mengatakan, para ilmuwan hingga saat ini tidak yakin untuk apa taring tersebut digunakan. Namun, diduga kuat itu digunakan sebagai senjata antar pejantan untuk memperebutkan wilayah. Mungkin juga digunakan menangkap mangsa seperti ikan, katak lain, berudu atau serangga. Atau, mempertahankan diri dari predator. "Tapi kami belum pernah melihat mereka menggigit siapapun," kata Evans.

Katak bertaring di Sulawesi menunjukkan variasi adaptasi katak di pulau yang terdiri dari banyak pegunungan, dengan lingkungan dan iklim mikro yang beragam -- dari terbasah hingga paling kering di Indonesia. Juga lingkungan vegetasi bervariasi yang harus diadaptasi.

Beberapa spesies katak bertubuh sangat besar dengan kaki berselaput, menyesuaikan dengan tempat hidup mereka, sungai beraliran deras. Lainnya, bertubuh kecil dengan semacam anyaman di kaki mereka, menyesuaikan dengan tempat hidup mereka di darat.

Beberapa katak membiakkan telur mereka secara internal --  bertelur jauh dari tepi air dan mengawasi mereka sampai berudu berkembang seperti kapsul jeli.

"Penemuan ini adalah contoh mengejutkan tentang bagaimana spesies mungkin akhirnya menggunakan taktik serupa untuk bertahan hidup dan diversifikasi jika ada kesempatan," kata Evans.

Para peneliti menghabiskan waktu bertahun-tahun, menyusuri sungai di hutan Sulawesi di malam hari. Mereka menghadapi risiko bertemu dengan ular berbisa dan ular kobra -- demi bisa menangkap katak unik ini dengan tangan.

Secara keseluruhan, mereka menangkap 683 katak yang kemudian dianalisis. Mereka juga memetakan distribusi katak, sekaligus membandingkan katak-katak tersebut dengan lingkungan mereka.

Evans mengatakan, para peneliti mencoba mendapatkan sampel katak di hutan yang belum tersentuh penebangan yang makin intensif di Pulau itu. Ada banyak hutan tempat kami mengambil sampel yang kemudian hilang ketika kami mengunjunginya beberapa tahun kemudian."

Hingga saat ini belum ada spesies yang ditemukan yang punah. Namun, ia yakin, penyebaran katak telah jauh berkurang. (sumber: CBC News)

Ditemukan, Fosil Hidup Berumur 200 Juta Tahun


Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif.




Ahli biologi melaporkan sebuah spesies belut baru yang ditemukan dalam gua bawah laut sedalam 35 meter di tepi sebuah pulau di negara Palau, Pasifik Barat. Para ahli menyebutnya sebagai fosil hidup yang mirip dengan belut pertama yang berenang sekitar 200 juta tahun yang lalu.

Seperti dikutip dari Daily Telegraph, 20 Agustus 2011, temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Proceeding Royal Society B. Penemuan sendiri itu terjadi Maret tahun lalu oleh tim yang dipimpin oleh Masaki Miya dari Institut Sejarah Museum Alam di Chiba, Jepang.

Spesies belut yang ditemukan berwujud ikan kecil berwarna cokelat yang berbeda dengan karakteristik anatomi belut modern. Sebaliknya, ia memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.

Kesamaannya di antaranya adalah ukuran kepala yang tidak proporsional, tubuh terkompresi menjadi pendek, kerah seperti bukaan pada insang, sinar pada sirip ekor dan ujung tulang rahang yang disebut premaxilla. Temuan ini sendiri sangat luar biasa dan bahkan belut tersebut dimasukkan ke dalam satu spesies terpisah, yakni Protoanguilla Palau.

Ketika pertama dijumpai, menggunakan jaring tangan dan lampu, peneliti mengumpulkan delapan contoh belut yang memiliki panjang sekitar panjang  6-9 centimeter tersebut. Setelah itu, tes DNA dilakukan untuk menilai sejarah genetik belut.

Menurut penelitian, sampai saat ini, Palau merupakan satu-satunya tempat penemuan spesies tersebut. Meski demikian, peneliti memperkirakan, distribusi belut ini masih cukup luas.

Sebagai informasi, Charles Darwin menyebut dengan istilah fosil hidup untuk menggambarkan spesies yang masih selamat hingga saat ini meski telah turun temurun selama jutaan tahun.

Fosil Hidup Sang Makhluk Purba

Berbagai spesies hewan dan tanaman yang bentuknya hampir tidak berubah ini memberi kita pandangan bagaimana kehidupan mereka di masa lalu. Naskrecki, seorang fotografer dan ahli biologi mengabadikan perjalanannya ke tempat tinggal para makhluk purba ini ke dalam bukunya yang berjudul 'Relics: Travels in Nature’s Time Machine'. (Sumber: Piotr Naskrecki)


Rantai evolusi seakan tak berlaku bagi sejumlah spesies. Penampakan mereka tetap sama, dalam kurun waktu berjuta-juta tahun. Mahluk-mahluk itu hidup di hutan, gurun, laut, dan bahkan di halaman rumah kita.

Sebagai 'fosil hidup', mereka memberi gambaran tentang dunia yang hilang. "Karena mereka melestarikan potongan kode genetik kuno, mahluk-mahluk itu harus menjadi prioritas konservasi," kata Piotr Naskrecki, fotografer yang mengabadikan gambar mereka.

Naskrecki yang juga seorang ahli biologi adalah penulis buku, 'Relics: Travels in Nature’s Time Machine' yang akan diterbitkan November 2011.

Buku tersebut adalah katalog, rekaman perjalanan Naskrecki, ke daerah-daerah, tempat di mana mahluk itu bisa mempertahankan akar genetisnya selama ribuan, bahkan jutaan tahun.

"Buku ini adalah proyek sampingan, dari ketertarikan saya dengan garis keturunan purba ini," kata dia. "Sebagai seorang ahli biologi konservasi, saya merasa mereka layak mendapatkan perhatian, sebagai 'kapsul' yang melestarikan keranekaragaman masa lalu."



Ujung selatan benua Afrika ini memiliki daya tarik bagi para ahli biologi. Daerah seluas 35.000 mil persegi ini memiliki lebih dari 9.000 spesies tanaman. 


Phyllomedusa bicolor, katak daun raksasa ini merupakan bagian dari keanekaragaman hayati hutan hujan Guyana di Amerika Selatan.


Belalang betina yang juga hidup di hutan Guyana dan memiliki nama latin Acanthops Soukana ini sedang menunggu mangsanya di sebuah ranting pohon. 


Kecoak raksasa ini juga merupakan bagian keanekaragaman hayati hutan hujan Guyana. Makhluk ini dikenal mampu beradaptasi di segala kondisi lingkungan.


Heelwalkers ini hidup di tempat yang panas, kering, di sepanjang pantai barat Afrika. 


Wyoming Grig, belalang yang hidup di semak-semak dataran tinggi Wyoming ini merupakan salah satu serangga tertua yang berasal dari jaman Triassic, 250 juta tahun lalu. 

Diberdayakan oleh Blogger.

YM

Suzuki Genuine Part

Harga Spare Part SUZUKI